Pages

Showing posts with label maman. Show all posts
Showing posts with label maman. Show all posts

22.11.11

so HE is SHE?

*jalan berdua di koridor SL dalam*
*papasan si maman cs*
*tiga detik pasca papasan*

p: did he just hide from you, vela? behind his friend's back?
v: hm.. perhaps.. who cares..
p: well, those who hide from their 'ex' are chickens.. HENS.. pokpokpok..
v: hahaha.. did I date him?
p: yess, you did! she is you ex, vela..
v: what? SHE?
p: uh-uh.. pokpokpok..

*kemudian bingung mau bereaksi apa*
*hidup berlanjut begitu saja*

20.10.11

Satu Purnama

Hari ini tepat satu purnama kita kandas. Sangat menyenangkan menyadari sungguh cepat aku kehilangan sakit. Seolah semua begitu saja lewat dan kenangan itu telah kukunci rapat. Dan samar-samar aku telah mampu meraba masa depanku. Dan yang pasti aku tahu, di masa depanku tidak ada kamu.

Mungkin karena terlampau runyam kau lantakkan hati ini, hingga rasaku cepat mati. Mungkin karena hatimu sudah berpindah sebelum raga kita terpisah, hingga kisah kita tak ubahnya sampah. Mungkin karena cukup lihai kujinakkan jiwaku, hingga biar sudah pergi tanpa arti 1 Juli itu.

Kata Paulo Coelho, 'sometimes the wrong train can take you to the right place'.

Ini tentang kamu. Kamu, bagiku, adalah kereta yang salah yang membawaku ke tempat yang benar. Kamu adalah orang yang salah yang mengantarkanku pada tingkat pendewasaan yang benar.

Tepat pasca lepas di ini purnama kesatu, janjiku padaku ini adalah kali terakhir kamu bercokol di sudut rongga benakku. Atas nama cinta cantik yang mengesankan yang mengenaskan, terima kasih telah menjadi yang kesatu. :)

*ditulis: 19 Oktober 2011*

17.10.11

Mereka (belum) Tahu

Bahkan hingga pekan kesekian kita tamat ada saja orang yang sangka kita masih ada cinta. Padahal kukira sudah lihat cukup jelas mereka. Padahal kukira keacuhan kita nyata. Padahal kukira kamu sudah ceritakan dunia.

Ingat benar aku saat itu belum lewat 100 jam kita berakhir, seorang senior 2007 bicarakan kita. Dia bilang kita sama, dia bilang baiknya kita bersama. Aku tertawa. Sebab nyatanya kita berdua berpisah baru saja.

Lalu pun ada temanmu, temanku, teman kita. Beberapa mereka masih tanpa segan meledek kita. Mereka kira kita masih bisa tersipu mendengarnya. Aku lagi-lagi tertawa. Sebab sungguhnya hati kita tidak lagi bahagia dengan cara yang sama.

Namun entah mengapa, aku justru suka. Bagaimana dunia perlakukan kita sama, seperti sebelum takdir mengakhiri kita punya cerita. Bagaimana kamu matikan citra dengan merengkuh lain wanita, saat mereka kira masih ada kita. Bagaimana aku tertawa lihat mereka ternganga, saat akhirnya tahu kita selesai sejak sangat lama. Hahaha..

Mereka (belum) tahu.. Tenang saja..

4.10.11

Bukan Kamu

Rasa sesak tiap kali kulihat kamu bersuara di linimasa itu aku akui masih kadang datang. Masih sulit aku terima bahwa bukan aku lagi yang bergema di tengkorakmu hingga buat kamu mengicau sesuatu. Masih gerah aku saksikan gelak genit hawa itu di penghujung dugaan bahwa dialah musabab penyerahanmu. Meski di balik semua kegusaranku, sungguh menjadi ikhlas aku sangat mau.

Hingga aku hibur diriku dengan mengingat mimpi-mimpi masa bocahku. Bahwa aku ingin priaku seorang musisi, yang mampu menggubah aku menjadi lagu. Bahwa priaku berlengan keras namun hangat, yang yakinkan ia lebih dari sekedar aman namun juga nyaman. Bahwa priaku pemikir di luar kotak, yang anti pakem dan mengejutkan. Bahwa priaku tidak pintar, tetapi cerdas. Bahwa priaku yang bisa membawa aku lebih dekat dengan Tuhan. Bahwa priaku mampu memegang setiap kata yang pernah keluar dari bibirnya.

Dan kamu? Dari sekian hal, yang kutemukan padamu hanya seujung kuku. Dan ini cukup menghiburku. Sadarkan aku, Tuhan beri lagi aku waktu untuk menunggu takdir membawa datang priaku.

Tapi entah. Tak peduli sekuat apa aku di malam sebelumnya, saat matahari meninggi sesak itu masih tersisa. Kenyataan bahwa sekali lagi hari ini aku harus berjalan sendiri, seperti sebelum kamu datang, sebelum kamu pergi. Meski atas pertimbangan dari penghiburanku, denganmu aku tak lagi mau. Meski teori 'hidup itu satu paket' aku sudah tahu. Meski paska ditinggalmu aku ada teman-teman baru, yang sedikit banyak menghiburku. Tapi tetap.. entah mengapa.. Tuhan, aku kangen..

Sampai di satu subuh aku sadar. Bahwa yang buat aku kangen adalah suasana saat-saat itu. Kangen pada gempita hati ketika sadar bahwa aku 'seseorang' bagi seseorang. Kangen pada mustahilnya air mata jatuh hingga mencium tanah. Kangen pada kemapanan rasa yang susah untuk resah sebab aku punya seseorang yang matikan gundah. Suasana itu sungguh, aku kangen. Ya. Aku kangen, tapi bukan padamu.

Bukan kamu.

29.9.11

Mematikan Rasa

Perbincangan kita selasa malam lalu. Berikanku waktu untuk berpikir. Setelah begitu banyak cerita manis yang kita tulis selama lebih 82 hari bersama, sungguh kah sudah waktu kita selesai?

Hal pertama adalah 'mungkin sejak awal ini bukan cinta'. Bahwa segala tindak tanduk yang kau buat demi bangunkan aku dari sakit atas senior 2007 itu bukan lah didasari cinta. Bahwa sejak awal mula yang kita rasa hanya sebatas nyaman, tanpa kemampuan dan kemauan ingin memiliki. Tanpa hasrat ingin menyayangi dan mempertahankan apa yang telah kita coba satukan dulu di malam 1 juli.

Kedua adalah 'kita terlalu sama'. Kita terlalu sama dan Tuhan tidak suka. Raga kita beda, namun perangai dan labirin dalam tempurung otak kita bisa jadi sama. Kita terlalu sama hingga kita pun kecewa. Kecewa pada 'proses' yang belakangan kau jadikan alasan atas bendera putihmu yang kini terkibar menyerah. Kecewa atas kekecewaan akan hadirnya rasa jengah. Meski akhir di pagi ini kita harapkan sungguh tiada pernah.

Ketiga. Ketiga.. ah, sudahlah. Semakin memikirkanmu semakin kurasa diriku dungu. Biar kulanjutkan lain waktu, di saat aku sudah cukup mati rasa meski kau tanpa ku mau mampir di pikiranku.


*ditulis: 25 September 2011*