Pages

4.10.11

Bukan Kamu

Rasa sesak tiap kali kulihat kamu bersuara di linimasa itu aku akui masih kadang datang. Masih sulit aku terima bahwa bukan aku lagi yang bergema di tengkorakmu hingga buat kamu mengicau sesuatu. Masih gerah aku saksikan gelak genit hawa itu di penghujung dugaan bahwa dialah musabab penyerahanmu. Meski di balik semua kegusaranku, sungguh menjadi ikhlas aku sangat mau.

Hingga aku hibur diriku dengan mengingat mimpi-mimpi masa bocahku. Bahwa aku ingin priaku seorang musisi, yang mampu menggubah aku menjadi lagu. Bahwa priaku berlengan keras namun hangat, yang yakinkan ia lebih dari sekedar aman namun juga nyaman. Bahwa priaku pemikir di luar kotak, yang anti pakem dan mengejutkan. Bahwa priaku tidak pintar, tetapi cerdas. Bahwa priaku yang bisa membawa aku lebih dekat dengan Tuhan. Bahwa priaku mampu memegang setiap kata yang pernah keluar dari bibirnya.

Dan kamu? Dari sekian hal, yang kutemukan padamu hanya seujung kuku. Dan ini cukup menghiburku. Sadarkan aku, Tuhan beri lagi aku waktu untuk menunggu takdir membawa datang priaku.

Tapi entah. Tak peduli sekuat apa aku di malam sebelumnya, saat matahari meninggi sesak itu masih tersisa. Kenyataan bahwa sekali lagi hari ini aku harus berjalan sendiri, seperti sebelum kamu datang, sebelum kamu pergi. Meski atas pertimbangan dari penghiburanku, denganmu aku tak lagi mau. Meski teori 'hidup itu satu paket' aku sudah tahu. Meski paska ditinggalmu aku ada teman-teman baru, yang sedikit banyak menghiburku. Tapi tetap.. entah mengapa.. Tuhan, aku kangen..

Sampai di satu subuh aku sadar. Bahwa yang buat aku kangen adalah suasana saat-saat itu. Kangen pada gempita hati ketika sadar bahwa aku 'seseorang' bagi seseorang. Kangen pada mustahilnya air mata jatuh hingga mencium tanah. Kangen pada kemapanan rasa yang susah untuk resah sebab aku punya seseorang yang matikan gundah. Suasana itu sungguh, aku kangen. Ya. Aku kangen, tapi bukan padamu.

Bukan kamu.

No comments:

Post a Comment