Anda seringkali gagal kurang berhasil dalam hal
cinta? Lama tidak berpacar meski Anda kece luar biasa? Kadang
curhat pada teman tapi petuah-petuahnya gak pernah berguna?
Tenang saja.. saya juga. :P
Sampai hari ini terlalu banyak yang berteori tentang hati,
tentang cinta. And finally some of those theory end up being
contradictive. Saya juga kurang mengerti, but this is what this is:
Paradoks pertama: Titiek Puspa vs Efek Rumah Kaca
Jatuh cinta berjuta rasanya.
Jatuh cinta berjuta rasanya.
Jatuh cinta itu biasa saja.
Memang sih waktu kita melihat orang yang kita
suka atau gebetan, gejala" umumnya itu degup jantung jadi lebay, kelakuan
mandadak norak alay, dan grogi ga keruan macem kang siomay #apesihvel.
Istilah kerennya seperti ada kupu-kupu di dalam perut. Mana pula
malemnya kepikiran, stalking", disapa dikit langsung GR terus bobo senyum,
liat dia ngobrol sama lawan jenis langsung galau terus nangis di bawah shower.
Belum begitu kenal tapi uda tau tanggal ulang taunnya, hafal jadwal
kuliahnya, inget rutinitasnya, tau temen" gaulnya sampe nama guru
ngajinya. Kata Titiek Puspa, 'Dia aktif aku pura-pura jual mahal, dia diam aku
cari perhatiaaan, oh repotnyaaaa'
Tapi banyak juga orang yang jatuh cinta, saling cinta, tapi ya udah gitu-gitu aja. Di masa PDKT boleh jadi hal" yang disebut di atas itu dialami, tapi begitu jadian ya udah. Jarang ada hal" sweet, surprise" kecil, celetukan" gombal, dll. Kenapa? Kalau menurut saya pribadi, karena hati kita sudah merasa mapan. Kadang kita merasa gak perlu melakukan hal" itu, sebab toh dia sudah kita pacari. Istilahnya Marshall dan Lily di How I Met Your Mother sih 'we lost our firsts'. Itu satu fase dalam hubungan ketika kita sudah saling tahu, kenal luar dalam, sudah melakukan banyak hal berdua, sehingga sudah gak ada hal baru dalam hubungan. Bosan? Yaa sebut aja begitu. Akhirnya yg terjadi seperti lagu Efek Rumah Kaca, 'ketika rindu menggebu-gebu, cepat berlalu, jatuh cinta itu biasa saja.'
Tapi banyak juga orang yang jatuh cinta, saling cinta, tapi ya udah gitu-gitu aja. Di masa PDKT boleh jadi hal" yang disebut di atas itu dialami, tapi begitu jadian ya udah. Jarang ada hal" sweet, surprise" kecil, celetukan" gombal, dll. Kenapa? Kalau menurut saya pribadi, karena hati kita sudah merasa mapan. Kadang kita merasa gak perlu melakukan hal" itu, sebab toh dia sudah kita pacari. Istilahnya Marshall dan Lily di How I Met Your Mother sih 'we lost our firsts'. Itu satu fase dalam hubungan ketika kita sudah saling tahu, kenal luar dalam, sudah melakukan banyak hal berdua, sehingga sudah gak ada hal baru dalam hubungan. Bosan? Yaa sebut aja begitu. Akhirnya yg terjadi seperti lagu Efek Rumah Kaca, 'ketika rindu menggebu-gebu, cepat berlalu, jatuh cinta itu biasa saja.'
Paradoks kedua: teori puisi vs teori nabi
Kalau jodoh tak lari ke mana.
Kalau jodoh tak lari ke mana.
Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China. (?)
Orang tua sering bilang, terutama pada
anak" gadisnya, 'ora usah grasa-grusu, kalau memang jodoh nanti datang
sendiri.' Banyak juga peribahasa dan proverbs barat yang bilang, 'there
is no rush in love, even in the fairy tale happy ending took place at the last
page.' Stereotip orang terutama orang Indonesia, bahwa perempuan gak
pantas ngejar" laki-laki. Perempuan itu takdirnya menunggu, sampai
nanti datang pangeran berkuda putih. Jodoh gak perlu dikejar, kalau
memang sudah garis takdir Tuhan, nanti akan bertemu lagi.
Padahal di kehidupan nyata, populasi pria
dibanding wanita di dunia saat ini adalah 1:5, artinya 1 pria berada di antara
5 wanita. Which means dalam istilah bodohnya, 1 pria 'kebagian' 5 wanita,
atau 5 wanita berebut 1 pria. How sad.. Belum pula kenyataan bahwa
homoseksual belakangan semakin marak, terutama kaum gay. Dari 1/5
populasi manusia di dunia yg pria, kita harus membagi lagi mereka ke golongan
straight dan gay. Lantas berapa total pria yang 'bisa' kita pacarai dan
nikahi? Dengan begini saya sebagai wanita bukan hanya bersaing dengan
wanita lain utk dapat seorang pria, tapi juga dgn pria lain yg menyukai pria.
Maka kenyataan akan menuntun kita pada sebuah teori, 'tuntutlah ilmu
hingga negeri Cina.' Kurang nyambung sih, tapi berhubungan. Bukan
'jodoh tak lari ke mana' tapi 'kejar jodoh supaya gak ke mana-mana, karena kalo
dilepas bisa jadi jodoh orang lain.'
Paradoks tiga: konsep peribahasa vs konsep hadis
Semut di seberang laut tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.
Semut di seberang laut tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.
Tulang rusuk mengenali pemiliknya.
Riset saya tentang poin ini memang belum
terlalu dalam. Tapi setidaknya gambaran besarnya begini. Kadang
kita suka dengan orang yang jelas-jelas 'jauh' dari kita. Baik dalam arti
kata sebenarnya misal tempat tinggal, atau makna lainnya seperti status sosial,
ras, agama, karakteristik, dll. Contoh gampangnya dari lagu Project Pop,
Tika Panggabean dan Tao Ming Tse. Kita terlalu sibuk memaksa diri jatuh
cinta dengan orang yang jelas-jelas jauh dari kita, tanpa sadar di dekat kita
ada yang sayang kita apa adanya. Tapi kita tidak tau dan kadang tidak mau
tau. Kita meninggikan pandangan, sehingga orang-orang itu tidak terlihat.
Orang-orang yang sebenarnya potensial untuk kita sayangi sebab mereka
sayang kita. Hal ini bukan hanya berlaku untuk pacra, tetapi juga dalam
hal sahabat, teman, dll.
Sementara di sisi lain, berdasarkan teori yang
seingat saya pernah saya baca di private message BBM kakak saya, bahwa 'tulang
rusuk mengenali pemiliknya'. Berarti harusnya kita tau orang itu jodoh
kita, atau orang itu bukan jodoh kita. Lantas apa kabar dengan
orang-orang pada contoh sebelumnya, yang impiannya terlalu jauh sampai buta
pada sekelilingnya? Apa mereka merasa orang-orang 'jauh' itu adalah
tulang rusuk mereka ataupun sebaliknya?
Barangkali masih ada teori-teori lain yang berseberangan,
yang bisa menjadi paradoks, yang saya belum tau, belum saya pikirkan, dan belum
saya tulis. Sampai di sini saya sudah berpikir cukup banyak. Dan
saya masih belum mengerti..
No comments:
Post a Comment