Pages

28.6.12

Paradoks Hati


Anda seringkali gagal kurang berhasil dalam hal cinta?  Lama tidak berpacar meski Anda kece luar biasa?  Kadang curhat pada teman tapi petuah-petuahnya gak pernah berguna?
Tenang saja.. saya juga. :P

Sampai hari ini terlalu banyak yang berteori tentang hati, tentang cinta.  And finally some of those theory end up being contradictive.  Saya juga kurang mengerti, but this is what this is:

Paradoks pertama: Titiek Puspa vs Efek Rumah Kaca
Jatuh cinta berjuta rasanya.
Jatuh cinta itu biasa saja.
    Memang sih waktu kita melihat orang yang kita suka atau gebetan, gejala" umumnya itu degup jantung jadi lebay, kelakuan mandadak norak alay, dan grogi ga keruan macem kang siomay #apesihvel.  Istilah kerennya seperti ada kupu-kupu di dalam perut.  Mana pula malemnya kepikiran, stalking", disapa dikit langsung GR terus bobo senyum, liat dia ngobrol sama lawan jenis langsung galau terus nangis di bawah shower.  Belum begitu kenal tapi uda tau tanggal ulang taunnya, hafal jadwal kuliahnya, inget rutinitasnya, tau temen" gaulnya sampe nama guru ngajinya. Kata Titiek Puspa, 'Dia aktif aku pura-pura jual mahal, dia diam aku cari perhatiaaan, oh repotnyaaaa'
    Tapi banyak juga orang yang jatuh cinta, saling cinta, tapi ya udah gitu-gitu aja.  Di masa PDKT boleh jadi hal" yang disebut di atas itu dialami, tapi begitu jadian ya udah.  Jarang ada hal" sweet, surprise" kecil, celetukan" gombal, dll. Kenapa?  Kalau menurut saya pribadi, karena hati kita sudah merasa mapan.  Kadang kita merasa gak perlu melakukan hal" itu, sebab toh dia sudah kita pacari.  Istilahnya Marshall dan Lily di How I Met Your Mother sih 'we lost our firsts'.  Itu satu fase dalam hubungan ketika kita sudah saling tahu, kenal luar dalam, sudah melakukan banyak hal berdua, sehingga sudah gak ada hal baru dalam hubungan.  Bosan? Yaa sebut aja begitu.  Akhirnya yg terjadi seperti lagu Efek Rumah Kaca, 'ketika rindu menggebu-gebu, cepat berlalu, jatuh cinta itu biasa saja.'

Paradoks kedua: teori puisi vs teori nabi
Kalau jodoh tak lari ke mana.
Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China. (?)
    Orang tua sering bilang, terutama pada anak" gadisnya, 'ora usah grasa-grusu, kalau memang jodoh nanti datang sendiri.'  Banyak juga peribahasa dan proverbs barat yang bilang, 'there is no rush in love, even in the fairy tale happy ending took place at the last page.'  Stereotip orang terutama orang Indonesia, bahwa perempuan gak pantas ngejar" laki-laki.  Perempuan itu takdirnya menunggu, sampai nanti datang pangeran berkuda putih.  Jodoh gak perlu dikejar, kalau memang sudah garis takdir Tuhan, nanti akan bertemu lagi.
    Padahal di kehidupan nyata, populasi pria dibanding wanita di dunia saat ini adalah 1:5, artinya 1 pria berada di antara 5 wanita.  Which means dalam istilah bodohnya, 1 pria 'kebagian' 5 wanita, atau 5 wanita berebut 1 pria.  How sad.. Belum pula kenyataan bahwa homoseksual belakangan semakin marak, terutama kaum gay.  Dari 1/5 populasi manusia di dunia yg pria, kita harus membagi lagi mereka ke golongan straight dan gay.  Lantas berapa total pria yang 'bisa' kita pacarai dan nikahi?  Dengan begini saya sebagai wanita bukan hanya bersaing dengan wanita lain utk dapat seorang pria, tapi juga dgn pria lain yg menyukai pria.  Maka kenyataan akan menuntun kita pada sebuah teori, 'tuntutlah ilmu hingga negeri Cina.'  Kurang nyambung sih, tapi berhubungan.  Bukan 'jodoh tak lari ke mana' tapi 'kejar jodoh supaya gak ke mana-mana, karena kalo dilepas bisa jadi jodoh orang lain.'

Paradoks tiga: konsep peribahasa vs konsep hadis
Semut di seberang laut tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.
Tulang rusuk mengenali pemiliknya.
    Riset saya tentang poin ini memang belum terlalu dalam.  Tapi setidaknya gambaran besarnya begini.  Kadang kita suka dengan orang yang jelas-jelas 'jauh' dari kita.  Baik dalam arti kata sebenarnya misal tempat tinggal, atau makna lainnya seperti status sosial, ras, agama, karakteristik, dll.  Contoh gampangnya dari lagu Project Pop, Tika Panggabean dan Tao Ming Tse.  Kita terlalu sibuk memaksa diri jatuh cinta dengan orang yang jelas-jelas jauh dari kita, tanpa sadar di dekat kita ada yang sayang kita apa adanya.  Tapi kita tidak tau dan kadang tidak mau tau.  Kita meninggikan pandangan, sehingga orang-orang itu tidak terlihat.  Orang-orang yang sebenarnya potensial untuk kita sayangi sebab mereka sayang kita.  Hal ini bukan hanya berlaku untuk pacra, tetapi juga dalam hal sahabat, teman, dll.
    Sementara di sisi lain, berdasarkan teori yang seingat saya pernah saya baca di private message BBM kakak saya, bahwa 'tulang rusuk mengenali pemiliknya'.  Berarti harusnya kita tau orang itu jodoh kita, atau orang itu bukan jodoh kita.  Lantas apa kabar dengan orang-orang pada contoh sebelumnya, yang impiannya terlalu jauh sampai buta pada sekelilingnya?  Apa mereka merasa orang-orang 'jauh' itu adalah tulang rusuk mereka ataupun sebaliknya?

Barangkali masih ada teori-teori lain yang berseberangan, yang bisa menjadi paradoks, yang saya belum tau, belum saya pikirkan, dan belum saya tulis.  Sampai di sini saya sudah berpikir cukup banyak.  Dan saya masih belum mengerti..

No comments:

Post a Comment