“Di surga itu nggak ada orang jelek, semuanya cantik-cantik,
ganteng-ganteng. Kaum pria bisa punya istri lima orang bidadari yang nggak
pernah menstruasi. Semua makanan yang ada di sana enak-enak. Yang di bumi
haram, di sana jadi halal, arak misalnya. Mau apa aja pasti ada, pasti
diturutin, pasti dikabulin. Bla bla bla.. bla bla bla..”
Kurang lebih begitulah bagaimana guru-guru agama kita di
sekolah kalau promosi surga. Katanya sih berdasarkan Quran dan hadis. Ya saya juga
baca sih, di Quran memang dengan implisit menyatakan bahwa surga itu tempatnya
semua yang enak-enak. Bukannya saya tidak percaya, justru saya sangat percaya
makanya saya masih punya iman. Yang saya tidak setuju adalah bagaimana manusia
menjadikan surga seumpama komoditas atau barang dagagan. Dan cara menjualnya
pun hard-selling banget. Ya seperti
yang saya kutip di atas itu.
Salah? Mungkin tidak sepenuhnya salah. Rangkaian kalimat di
atas adalah shortcut buat mengiming-imingi orang malas supaya tertarik beribadah
dan masuk surga, tanpa dengan jelas memberikan alasan bagaimana dan mengapa. Yang
kita tahu hanya hubungan transaksionis antara ibadah dan surga. Seolah-olah
Tuhan adalah pedagang surga, alat tukar atau uangnya adalah pahala, supaya
dapat uang atau pahala untuk beli surga kita harus bekerja dengan cara ibadah,
dan terakhir sales marketing-nya guru
agama atau ustadz/ah, dll. (maaf ya pak, bu, hehe)
Hasilnya? Banyak orang yang menjalankan ibadah dengan
motivasi yang salah. Bukan hal yang buruk memang untuk mengharapkan surga. Orang
terjahat sekalipun (kalau punya iman) pasti mau masuk surga. Tapi saya tetap
tidak setuju dengan paradigma hasil promosi dagang surga ini. Saya jadi ingat
pernah bahas ini dengan teman-teman kuliah. Mereka ribut menyoalkan bagaimana surga
itu tempatnya manusia hidup enak kekal abadi selamanya. Persis seperti yang
saya kutip di atas. Lantas saya, yang memilih lebih banyak diam kalau membahas
agama karena saya tidak mau sok tahu dan karena memang saya tidak banyak tahu,
angkat bicara dan menuntaskan kerusuhan di antara orang-orang yang sama-sama
belum tahu ujud surga itu.
“Menurut gue sih, di surga itu bukannya nggak ada orang
jelek, bukannya nggak ada makanan nggak enak atau boleh minum bir, bukannya
gimana. Tapi mereka yang masuk surga itu, adalah orang-orang yang hatinya
putih, orang-orang yang pikirannya bersih, ahli syukur. Jadinya di mata mereka
nggak ada wajah yang terlihat jelek. Di lidah nggak ada yang terasa nggak enak.
Karena mereka memang nggak peduli apa itu jelek, apa itu nggak enak. Mereka juga
nggak ada niat mau ngebir, zinah, dan lain-lain Yang masuk surga menurut gue
pasti orang yang nggak punya hal negatif dalam pikiran sama hatinya.”
Barulah terdengar ucapan-ucapan ‘iya sih ya’, ‘bener juga ya’,
‘iya sih, berarti kita kalau masih suka nyinyirin orang belum bisa masuk surga
ya’. Nah! Sampai sini saya lega.
Saya jadi ingat teman SMA saya, Amelia, pernah bilang kurang
lebih begini di media sosialnya.
“Orang yang kepengen masuk surga karena pingin bisa punya
istri lima bidadari dan mau makan enak itu, berarti niatnya cuma buat nyenengin
perut sama tit*tnya doang.”
Dan saya SANGAT SETUJU dengan pendapat dia itu.
Paradigma ini yang mengantarkan banyak manusia menjalankan
ibadah dengan niat terselubung, bukan ikhlas untuk menyembah Tuhan-nya. Niat terselubung
supaya nanti di surga, kerja keras ibadahnya yang menghasilkan pahala yang
banyak, bisa dipakai buat beli kemewahan dan kenikmatan hidup di surga.
Saya pribadi memang bukan umat muslim yang sangat taat. Bahkan
bisa dibilang saya sehari-hari baru mampu menjalankan ibadah-ibadah yang wajib
saja, ya sesekali ditambah sholat Dhuha lah. Tapi satu hal yang saya tahu pasti
adalah, saya bisa merasakan momen-momen ajaib setiap selesai sholat. Walaupun saat
itu saya sibuk, mengantuk, atau bahkan sholatnya buru-buru, setiap selesai
sholat saya bisa menarik napas panjang dan bersyukur. Bersyukur atas apa saja.
Saya bukan ngaku-ngaku paling bener lho ya. Tapi setidaknya
saya sadar, tanpa termakan promosi dan iming-iming surga seperti di atas, saya
masih bisa menjalankan ibadah dan keimanan saya. Urusan surga biar Dia yang
atur. Karena saya juga yakin, Tuhan pun tidak mau dilabeli sebagai ‘pedagang surga’.
No comments:
Post a Comment