Pages

29.9.14

Tuhan Pedagang Surga?

“Di surga itu nggak ada orang jelek, semuanya cantik-cantik, ganteng-ganteng. Kaum pria bisa punya istri lima orang bidadari yang nggak pernah menstruasi. Semua makanan yang ada di sana enak-enak. Yang di bumi haram, di sana jadi halal, arak misalnya. Mau apa aja pasti ada, pasti diturutin, pasti dikabulin. Bla bla bla.. bla bla bla..”

Kurang lebih begitulah bagaimana guru-guru agama kita di sekolah kalau promosi surga. Katanya sih berdasarkan Quran dan hadis. Ya saya juga baca sih, di Quran memang dengan implisit menyatakan bahwa surga itu tempatnya semua yang enak-enak. Bukannya saya tidak percaya, justru saya sangat percaya makanya saya masih punya iman. Yang saya tidak setuju adalah bagaimana manusia menjadikan surga seumpama komoditas atau barang dagagan. Dan cara menjualnya pun hard-selling banget. Ya seperti yang saya kutip di atas itu.

Salah? Mungkin tidak sepenuhnya salah. Rangkaian kalimat di atas adalah shortcut buat mengiming-imingi orang malas supaya tertarik beribadah dan masuk surga, tanpa dengan jelas memberikan alasan bagaimana dan mengapa. Yang kita tahu hanya hubungan transaksionis antara ibadah dan surga. Seolah-olah Tuhan adalah pedagang surga, alat tukar atau uangnya adalah pahala, supaya dapat uang atau pahala untuk beli surga kita harus bekerja dengan cara ibadah, dan terakhir sales marketing-nya guru agama atau ustadz/ah, dll. (maaf ya pak, bu, hehe)

Hasilnya? Banyak orang yang menjalankan ibadah dengan motivasi yang salah. Bukan hal yang buruk memang untuk mengharapkan surga. Orang terjahat sekalipun (kalau punya iman) pasti mau masuk surga. Tapi saya tetap tidak setuju dengan paradigma hasil promosi dagang surga ini. Saya jadi ingat pernah bahas ini dengan teman-teman kuliah. Mereka ribut menyoalkan bagaimana surga itu tempatnya manusia hidup enak kekal abadi selamanya. Persis seperti yang saya kutip di atas. Lantas saya, yang memilih lebih banyak diam kalau membahas agama karena saya tidak mau sok tahu dan karena memang saya tidak banyak tahu, angkat bicara dan menuntaskan kerusuhan di antara orang-orang yang sama-sama belum tahu ujud surga itu.

“Menurut gue sih, di surga itu bukannya nggak ada orang jelek, bukannya nggak ada makanan nggak enak atau boleh minum bir, bukannya gimana. Tapi mereka yang masuk surga itu, adalah orang-orang yang hatinya putih, orang-orang yang pikirannya bersih, ahli syukur. Jadinya di mata mereka nggak ada wajah yang terlihat jelek. Di lidah nggak ada yang terasa nggak enak. Karena mereka memang nggak peduli apa itu jelek, apa itu nggak enak. Mereka juga nggak ada niat mau ngebir, zinah, dan lain-lain Yang masuk surga menurut gue pasti orang yang nggak punya hal negatif dalam pikiran sama hatinya.”

Barulah terdengar ucapan-ucapan ‘iya sih ya’, ‘bener juga ya’, ‘iya sih, berarti kita kalau masih suka nyinyirin orang belum bisa masuk surga ya’. Nah! Sampai sini saya lega.

Saya jadi ingat teman SMA saya, Amelia, pernah bilang kurang lebih begini di media sosialnya.
“Orang yang kepengen masuk surga karena pingin bisa punya istri lima bidadari dan mau makan enak itu, berarti niatnya cuma buat nyenengin perut sama tit*tnya doang.”

Dan saya SANGAT SETUJU dengan pendapat dia itu.
Paradigma ini yang mengantarkan banyak manusia menjalankan ibadah dengan niat terselubung, bukan ikhlas untuk menyembah Tuhan-nya. Niat terselubung supaya nanti di surga, kerja keras ibadahnya yang menghasilkan pahala yang banyak, bisa dipakai buat beli kemewahan dan kenikmatan hidup di surga.

Saya pribadi memang bukan umat muslim yang sangat taat. Bahkan bisa dibilang saya sehari-hari baru mampu menjalankan ibadah-ibadah yang wajib saja, ya sesekali ditambah sholat Dhuha lah. Tapi satu hal yang saya tahu pasti adalah, saya bisa merasakan momen-momen ajaib setiap selesai sholat. Walaupun saat itu saya sibuk, mengantuk, atau bahkan sholatnya buru-buru, setiap selesai sholat saya bisa menarik napas panjang dan bersyukur. Bersyukur atas apa saja.


Saya bukan ngaku-ngaku paling bener lho ya. Tapi setidaknya saya sadar, tanpa termakan promosi dan iming-iming surga seperti di atas, saya masih bisa menjalankan ibadah dan keimanan saya. Urusan surga biar Dia yang atur. Karena saya juga yakin, Tuhan pun tidak mau dilabeli sebagai ‘pedagang surga’.

No comments:

Post a Comment