Suatu siang
di UKM GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, saya makan dengan
seorang teman. Tempat makan dengan konsep pujasera ini membuat para
pengunjungnya bebas memilih makanan dan minuman apa saja, duduk di mana saja,
dan bahkan bisa melihat proses membuatnya. Ya iya lah, wong tempatnya terbuka
begitu.
Usai makan,
saya tengok ke seberang kanan adalah warung nasi goreng. Abangnya sedang sibuk memasak.
Tapi keran air di tempat pencuciannya terbuka, dan air yang mengalir deras
sekali. ‘Mungkin sedang menampung air,’ batin saya. Tapi dilihat-lihat kok di
bawah keran air itu kosong. ‘Mungkin mbersihin salurannya yang mampet,’ saya
tetap berusaha positif. Tapi apa lah gunanya berpikir posisitf kalau kita tahu ada
dampak negatifnya. Akhirnya saya jalan ke arah abang nasi goreng itu.
‘Bang, kok
airnya nyala?’
‘Iya mbak,
lupa, hehe.’
‘Terus?
Sekarang udah inget kan?’
‘Iya, nanti
saya matiin, hehe,’ ujarnya masih cengengesan.
‘Atuhlah,
boros kan airnya kasian,’ akhirnya saya sendiri yang matikan keran air itu.
‘Hehe,
makasih mbak.’
Seringkali perbuatan
kecil seperti ini luput dari perhatian kita. It seems to be not a big deal.
Namun sangat
klise kalau saya berargumen begini: ‘Di luar sana banyak yang susah dapat air
dan kekeringan, kok kita malah boros air.’
Tapi sekarang
begini, coba ubah sudut pandangnya. Oke, kita bisa bayar berapapun tagihan
airnya. Oke, akses air di tempat tinggal kita mudah dan lancar, sehingga bebas
memakainya.
But do we
really think that the water we waste bring good for us? Gampangnya, apakah air
yang kita habiskan itu memang kita ambil manfaatnya sebelum mengalir ke
pembuangan?
Saya sering
bertemu dengan orang-orang semacam di atas. Di tempat wudhu, buka keran
kencang-kencang baru gulung lengan dan buka peniti jilbab. Di toilet, buka
keran kencang-kencang lantas ditinggal menyabun tangan atau ambil tissue. Dan saya
juga sering nyaris bertengkar atau sekadar dipelototi karena dengan sengaja
mematikan keran di depan mereka. ‘Boros,’ selalu itu jawaban saya.
It’s not
about how we can afford to pay all of the water of the earth. Tapi tentang
bagaimana kita menghargai natural resources yang dipinjamkan Bumi ke kita. Pinjam?
Iya lah, memangnya kita ikut bikin air?
Same thing
goes to other natural resources. Entah yang bisa diperbaharui maupun tidak.
Listrik, bahan bakar, bahkan makanan. Banyak orang yang masih memaknai hal-hal
tersebut sebagai hak milik. Milik mereka. Sehingga mereka mau berbuat apapun
sepanjang mereka bisa membayarnya, tak ada orang yang berhak mempermasalahkannya.
Tak peduli betapa banyak sisa atau bagian yang terbuang percuma, toh menurut
mereka mereka membayarnya. Mereka kira uang bisa menjadi alasan dan kompensasi
atas kemubaziran yang mereka lakukan.
Sedih? Saya sudah
dari dulu sedih karena ini.
No comments:
Post a Comment