Pages

23.9.14

It’s not about how we can afford to pay all of the water of the earth

Suatu siang di UKM GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, saya makan dengan seorang teman. Tempat makan dengan konsep pujasera ini membuat para pengunjungnya bebas memilih makanan dan minuman apa saja, duduk di mana saja, dan bahkan bisa melihat proses membuatnya. Ya iya lah, wong tempatnya terbuka begitu.

Usai makan, saya tengok ke seberang kanan adalah warung nasi goreng. Abangnya sedang sibuk memasak. Tapi keran air di tempat pencuciannya terbuka, dan air yang mengalir deras sekali. ‘Mungkin sedang menampung air,’ batin saya. Tapi dilihat-lihat kok di bawah keran air itu kosong. ‘Mungkin mbersihin salurannya yang mampet,’ saya tetap berusaha positif. Tapi apa lah gunanya berpikir posisitf kalau kita tahu ada dampak negatifnya. Akhirnya saya jalan ke arah abang nasi goreng itu.

‘Bang, kok airnya nyala?’
‘Iya mbak, lupa, hehe.’
‘Terus? Sekarang udah inget kan?’
‘Iya, nanti saya matiin, hehe,’ ujarnya masih cengengesan.
‘Atuhlah, boros kan airnya kasian,’ akhirnya saya sendiri yang matikan keran air itu.
‘Hehe, makasih mbak.’

Seringkali perbuatan kecil seperti ini luput dari perhatian kita. It seems to be not a big deal.
Namun sangat klise kalau saya berargumen begini: ‘Di luar sana banyak yang susah dapat air dan kekeringan, kok kita malah boros air.’

Tapi sekarang begini, coba ubah sudut pandangnya. Oke, kita bisa bayar berapapun tagihan airnya. Oke, akses air di tempat tinggal kita mudah dan lancar, sehingga bebas memakainya.
But do we really think that the water we waste bring good for us? Gampangnya, apakah air yang kita habiskan itu memang kita ambil manfaatnya sebelum mengalir ke pembuangan?

Saya sering bertemu dengan orang-orang semacam di atas. Di tempat wudhu, buka keran kencang-kencang baru gulung lengan dan buka peniti jilbab. Di toilet, buka keran kencang-kencang lantas ditinggal menyabun tangan atau ambil tissue. Dan saya juga sering nyaris bertengkar atau sekadar dipelototi karena dengan sengaja mematikan keran di depan mereka. ‘Boros,’ selalu itu jawaban saya.

It’s not about how we can afford to pay all of the water of the earth. Tapi tentang bagaimana kita menghargai natural resources yang dipinjamkan Bumi ke kita. Pinjam? Iya lah, memangnya kita ikut bikin air?

Same thing goes to other natural resources. Entah yang bisa diperbaharui maupun tidak. Listrik, bahan bakar, bahkan makanan. Banyak orang yang masih memaknai hal-hal tersebut sebagai hak milik. Milik mereka. Sehingga mereka mau berbuat apapun sepanjang mereka bisa membayarnya, tak ada orang yang berhak mempermasalahkannya. Tak peduli betapa banyak sisa atau bagian yang terbuang percuma, toh menurut mereka mereka membayarnya. Mereka kira uang bisa menjadi alasan dan kompensasi atas kemubaziran yang mereka lakukan.

Sedih? Saya sudah dari dulu sedih karena ini.


No comments:

Post a Comment