Pages

30.9.11

Datang Untuk Hilang

Kehilangan ini kali pertamanya saya rasakan. Demi apa pun hingga di tahun ke dua puluh saya bernapas, baru sekali ini saya tau rasanya putus cinta. Benar-benar putus, bukan sekedar patah. Dan berkat pengalaman kehilangan pertama yang kadang masih menyesakkan ini, saya banyak belajar memaknai hidup.

Sempat saya runut kembali kronologis peristiwa sejak awal mula berkenalan dengan lelaki maman ini, hingga kemudian kami saling jatuh, dan akhirnya kini kembali mengasing. Sungguh saya akui betapa besar kuasa Tuhan membalikkan hati manusia semau-Nya. Bagaimana dulu kami pernah saling mengenal, lantas saling merasa nyaman, kemudian rasa sayang itu pun datang, hadir pula keinginan memiliki, lalu kami pinta restu ibu-bapak kami, dan bahkan hingga kami berani bermimpi.

Dan kemudian skip saja ceritanya. Kini semua telah kandas, seolah segala yang pernah kami perjuangkan dulu demi membangun mimpi itu bukan apa-apa. Ibarat siaran televisi, peristiwa-peritiwa manis itu hanya lintas pariwara saja. Bahkan sesaknya dibenci teman sendiri, bahkan kelelahan hati dipandang mencuri, bahkan kerelaan materi untuk saling memberi, bahkan perjuangan menjilat ludah sendiri, bahkan hingga terbuangnya air mata atas banyak hal untuk ditangisi. Bahkan pula kepingan kenangan cantik dari cerita yang kami tulis selama lebih 82 hari. Bukan apa-apa..

Ditinggalkan dengan disisakan kegalauan. Beruntung saya punya Tuhan, saya belum gila.

No comments:

Post a Comment