Pages

7.9.14

If the world is going to hell, why don’t we create a little heaven on earth? An opinion upon Conchita ‘The Bearded Lady’ Wurst

*ditulis 18 Mei 2014*

Beberapa hari lalu linimasa sempat berseliweran berita tentang Wanita Berjanggut atau The Bearded Lady yang menang Eurovision 2014. Pagi ini saya penasaran, dan coba cari info tentang orang itu.

Nama panggungnya Conchita Wurst, nama aslinya Thomas Neuwirth. Asal Austria, kelahiran tahun 1988.
Ternyata suaranya memang bagus, walaupun bukan favorit saya sih. Aksi panggungnya pun lumayan lah, apalagi yang dia jual kan penampilan dia. Berjanggut, tapi pakai gaun dan make up komplit. Rambutnya pun sering digerai, bikin saya iri.

Sambil nonton-nonton videonya di YouTube, akhirnya saya sampai ke bagian komentar. Sumpah, ini lucu banget. Sebagaimana kebanyakan kontroversi tentang apapun, perdebatan tentang kemenangan Conchita ini juga seru banget. Dan pastinya kali ini tentang LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender).

Paling kocak yang ini nih >>>

A: God please threw a brick and be precise!!! The world is going to hell.
B: You think asking a deity to throw brick at someone ISN’T a threat? Care to explain?
C: Yes, yes… Please be sure to hit A.

Orang-orang yang pro Conchita mengatasnamakan kebebasan LGBT. Sementara yang kontra sudah pasti yang dibawa agama. Kalaupun bukan bawa agama, ada yang bilang juri memenangkan Austria cuma supaya dinilai punya empati terhadap kaum LGBT.
Pro: yaa sudah jelas lah ya. Kalau pro pasti yang dibawa adalah human rights. Bahwa ini hak semua orang untuk jadi diri masing-masing, bla bla bla, la la la, ye ye ye…
Kontra: kebanyakan dengan frontal mengatakan ‘disgusting’ atau merasa jijik dengan penampilan Conchita. Dari pihak ini banyak yang kesannya paham betul masalah agama. Seolah-olah waktu kitab-kitab agama diturunkan, mereka ikutan diskusi dan ngedit isinya.
Netral: dari pihak ini juga lucu. Ada yang sekadar menilai suara dan penampilan Conchita yang memang bagus, ada juga yang cuma numpang ketawa setelah baca komentar-komentar yang berantem sebelumnya.

Aside from all that, ada beberapa kutipan dari Conchita yang membuat saya agak terharu. Pertama, acceptance speech dia ketika baru menerima trofi Eurovision 2014.
‘This night is dedicated to anyone who believes in a future of peace and freedom!’

Kedua, waktu dia diwawancara Graham Norton.
Norton: Why do you think the beard is such a big deal?
Conchita: Actually.. well.. I know it is something you don’t see every day. But I created this bearded lady just to show everybody that, it’s so cheesy, but we have only one life, you know, and you better make it fabulous. And that’s just my own truth. I feel this stage persona and I feel more comfortable on stage. And besides that, you know, I’m a member of the gay community. And being a teenager in this small village wasn’t the funniest thing on earth. So, over the years I tried to fit in, and I changed myself.. every way you can imagine, I just wanted to be a part of the game. And then I realized, I create the game.

Ucapan dia di talkshow itu sekali lagi mengingatkan saya bahwa it is not easy to be different. I, myself, was born as a member of a majority part of the society. I never knew how it feels growing up struggling between choices: being yourself or just try to fit in. Dan menurut saya tindakan yang dilakukan Conchita ini sangat berani, which I will never dare to do so.

After all, in the name of human rights, we already have many conflicts in this cruel world. Benar dan salah selalu berbeda kalau dilihat dari sudut pandang yang berbeda. I am neutral about this. Jujur, saya pribadi tidak membenci LGBT, tapi juga tidak sepenuhnya mendukung kaum itu. Sayangnya untuk sebagian orang, pandangan seperti ini justru dinilai banci. Tidak berani berpendirian. Bahkan bisa dibilang pembiaran terhadap sesuatu yang salah. Tapi menurut saya justru inilah pendirian saya. Saya ogah memilih satu pandangan dan mengabaikan pandangan lainnya. Saya lebih suka melihat dari kedua sisi, berdebat dan bertanya di dalam kepala sendiri, mencari informasi dan membaca lebih banyak lagi, dan akhirnya berdamai dengan diri sendiri. I think that’s how I maintain my inner peace.


So, if the world is indeed going to hell, why don’t we create a little heaven on earth?

No comments:

Post a Comment